Kasdel hanya bisa menitikan air mata setelah semua barang dagangannya berpindah ke tangan Kepala Sekolah dimana ia bersekolah. Kasdel memang tahu bahwa membawa rokok kelingkungan sekolah itu melanggar peraturan. Dan dia juga tahu inilah akibatnya jika peraturan itu dia langgar.
“Rokok-rokok ini saya sita! ini surat panggilan buat orang tua / wali kamu.” Kata kepala sekolah yang masih dia ingat dengan jelas.
Kasdel sebenarnya anak baik. Meskipun dia tidak terlalu pintar. Namun, karena kedua orang tuanya yang menghilang entah kemana ketika dia berusia 5 tahun, dia terpaksa harus hidup sendiri di Jakarta. Bekerja apa saja sepulang sekolah hanya untuk membiayai perjuangan dia untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang Dokter.
Mungkinkah?
Dalam keadaan seperti ini mungkin seorang psikolog anak akan mengatakan bahwa kasdel harus mencari teman. Untuk berbagi atau untuk sekedar bercerita mencurahkan unek-uneknya. Tapi rupanya Kasdel tidak sependapat dengan psiokolog masalah anak itu, karena ia tahu benar jika dia mendekati seorang teman, kata-kata mereka akan tetap sama seperti kemaren. “Dasar anak haram! Nyokap lo perek! makanya dia buang lo sendiri.. hahahahaha… kasian.. deh lo.”
Apanya yang membantu?
Sekarang Kasdel duduk di bangku halte merenungi Nasib. Sambil membolak-balik Surat dari Kepala sekolah tadi, dia menggerutu sendiri. “Dasar Kepala sekolah Bego! di kasih kesiapa ini Coba?? Orang tua/wali?? Lagian saya kan cuma lupa. Lupa bawa barang dagangan saya ke Sekolah. saya ga jual Rokok di sekolah. Apa itu salah??. Pake ngomong-ngomong rokok itu hanya untuk orang dewasalah. Mang saya harus sekolah SD tar udah dewasa??? Emangnya buat beli buku ma uang jajan saya ditanggung dari negara? tetep saja saya harus kerja.”
Setelah ucapannya sendiri selesai, Kasdi sekarang punya keyaninan baru.
- Jadi orang miskin itu Hina
- Teman itu hanya kita sendiri.
- Menjadi tokoh baik dan beruntung seperti “Candy” itu hanya ada di TV.
- Bila yang baik aku lakukan tapi selalu salah, kenapa tidak Sekarang aku menjadi salah.
Sejak saat itu Kasdel memutuskan berhenti sekolah dan cita-citanya menjadi seorang Dokter telah ia lupakan. Ia sadar itu tidak mungkin. Tapi yang mungkin bagi dirinya hanya Profesi-profesi lain akan menjadikan Jakarta lebih berwarna. Jakarta yang khas, semarak dan akan sangat tak lengkap tanpa cerita-cerita di koran tentang orang-orang sepertinya.
“Kepala sekolah ku yang gendut lagi Botak, tunggu aku ya. Aku kan jarah seluruh isi rumahmu dan aku akan perkosa semua istrimu. c u.. Bapak.. muah… “
Ada yang bisa bantu Kasdel?
—- Kisah lain yang ga nyambung —-
Pernah baca TKW yang sekaligus penulis ? Klik….
April 18, 2008 at 5:45 am
Hanya Allah yang bisa bantu Kasdel…
Selama Kasdel percaya akan KekuatanNya
April 18, 2008 at 9:10 am
Allah tempat bergantung atas segala sesuatu
April 18, 2008 at 10:25 am
“Kepala sekolah ku yang gendut lagi Botak, tunggu aku ya. Aku kan jarah seluruh isi rumahmu dan aku akan perkosa semua istrimu. c u.. Bapak.. muah… “
Saya seneng dengan kata2 itu. Mending poligamilah kalo dah kaya dari pada bantu2 orang yang ga jelas. hehe banyak ya yang berpikir kaya gitu…..
April 18, 2008 at 2:47 pm
owkey… jadi kasdel ini mau kerja full service atau short time…??? saya bisa bantu
April 18, 2008 at 4:36 pm
kasdel = cdl
cian de lo
April 18, 2008 at 5:16 pm
sabar-sabr.. hanya Allah tempat kembali
April 18, 2008 at 6:06 pm
Si Kasdel baru 8 tahun. Dia juga sendiri. gak ada yang mengenalkannya pada Allah.
April 18, 2008 at 7:08 pm
ini curhatan pribadi yah??
April 18, 2008 at 9:43 pm
Ini Cerita Pendek Sekali kang RIDU . boongan
April 18, 2008 at 10:28 pm
Kasdel banget deh…
eh orang banjarkah nih? pina bapandir kalelepon? hehehe
slm knl*,*
April 19, 2008 at 9:58 pm
Kasihan si Kasdel …. tapi sebaiknya kasdel jangan menyesali dan menyumpahi hidup begitu
ah sok tahu saya.
April 20, 2008 at 12:30 am
hahaha
@ Hafidzi.. nyarios naon nya abdi rada lieur yeuh teu ngartos.. hayo…
@Rindu… asik eung… ada rindu mampir..
April 21, 2008 at 12:46 pm
kasdel..
kenalis dunks sama kasdel
April 21, 2008 at 3:34 pm
kasdel… kok pendendam banget….
April 21, 2008 at 7:33 pm
si kasdel bisa disain ga ya kira2..
klo bisa aku ad kerjaan bikin web…
part time abis pulang sekolah juga gapapa…..
dan ternyata yang paling menohok adalah
kita melihatnya tiap hari….
ketika pasal dimana orang miskin dan orang terlantar di pelihara oleh negara indonesia masih berlaku…harusnya negara bersifat proaktif bukan hanya sekedar menggerus mereka dengan mengeluarkan satpol pp yang se peleton
walaupun paklik saya adalah satpol pp juga…
April 22, 2008 at 7:56 am
Kasdel,
Sebenarnya di negara ini masih banyak Kasdel2 yang lain.
Apa yang bisa kita lakukan buat mereka ?.
Turut prihatin Mas !
Best Regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com
April 22, 2008 at 10:47 am
lihat deh… di sebalah kita… kasdel kayanya ada. di setiap sisi kita.
April 22, 2008 at 3:48 pm
bingung mo komen apa… fenomena yang ada di sekitar itu. bukan hanya perlu dikasihani, tapi perlu dirangkul. kadang-kadang banyak orang yang ngga peka macam kepala sekolah dodol itu..
April 23, 2008 at 11:20 am
lingkungan emang sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang, apalagi kalo orang tersebut ga punya pegangan yg kuat, seperti orang tua yg hilang ntah kmana…
cerita berikut, saat di rumah kepsek ternyata istrinya mengenali kasdel sbg anak yg pernah dibuang dan akhirnya mereka hidup bahagia. sinteron bgt yak
April 23, 2008 at 1:35 pm
salam.
saya ingin ikutan komen ok.
bisa jadi, itu merupakan realitas yang terjadi bukan saja di jakarta tapi juga ditempat lain, atau bahkan di negara lain.
saya ingin melihatnya dari sudut pak kepala sekolah. nampaknya dia tidak arif dalam melihat persoalan, dia terlalu legal formal, sehingga tidak mampu melihat nuansa kearifan. tapi jika dia arif dan bijak, tentunya membuka kesempatan untuk kasdel dalam mengkomunikasikan dirinya. semestinya, pak kepala sekolah harus bisa merangkul anak-anak seperti kasdel. tapi sayang, mungkin terlalu banyak style kepala sekolah seperti diatas.
saya pikir itu dulu, thanks and let us keep moving together.
ahmad
April 27, 2008 at 12:34 am
ih…kasdel kok gitu sih?

kasdel makan kelepon dulu aja ya…
April 27, 2008 at 1:49 am
buta..
April 27, 2008 at 4:58 am
kemana negara saat UUD 45 mempunyai klausul
” Anak anak fakir miskin dipelihara negara…”
Mei 5, 2008 at 5:00 pm
masalahnya punya cita2 seperti ini pun
“Kepala sekolah ku yang gendut lagi Botak, tunggu aku ya. Aku kan jarah seluruh isi rumahmu dan aku akan perkosa semua istrimu. c u.. Bapak.. muah… “
gak gampang…….. mungkin perlu keberanian/kenekatan lebih daripada menjadi dokter